This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?

J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?
HYDE (L'arc~en~Ciel) dan G-Dragon (Big Bang)
Dalam beberapa tahun terakhir industri musik Asia diramaikan dgn kedatangan berbagai musisi dgn karya yg mengangumkan. Dan khusus untuk level Asia sendiri tampaknya genre musik yg paling populer didominasi dari dua negara dari Asia Timur, Jepang dgn J-Pop dan Korea dgn K-Pop. Keberhasilan kedua negara ini menguasai pasar musik Asia juga dipengaruhi dgn banyaknya musisi mereka yg sudah berada di pasaran dunia, bahkan ada beberapa musisi yg kualitasnya diakui di mata dunia.
Melihat kesuksesan dua negara tersebut, tergelitik juga pertanyaan "kapankah Indonesia bisa menelurkan musisi yg berhasil berkancah dalam taraf internasional sekaligus digandrungi di negara sendiri ?". Sebelum sampai ke hal-hal seperti itu marilah kita lihat beberapa perbedaan antara J-Music (Jepang), K-Music (Korea) dan I-Music (Indonesia).
J-Music
J-Pop / J-Music ialah lagu-lagu yg dibuat oleh musisi-musisi asal Jepang dan menggunakan bahasa Jepang dalam seluruh/sebagian liriknya. Mengingat negara Jepang memiliki gaya berbusana yg disebut 'harajuku', dimana seseorang menggunakan pakaian dgn kreativitas sebebas-bebasnya, maka beberapa musisi Jepang juga menerapkan sistem harajuku dalam bermusik, baik dari cara berbusana maupun penulisan lirik.
Dari fashion, kebanyakan yg menerapkan budaya harajuku dgn seluas-luasnya kebanyakan berasal dari band. Gaya penampilan yg unik dgn warna rambut yg bermacam-macam ala beberapa tokoh dari anime Jepang menjadi salah satu daya tarik dari band-band Jepang. Band bergenre J-Rock dan V-Kei merupakan band paling sering tampil dgn dandanan yg 'wah'. Khusus penganut aliran V-Kei (Visual Kei), yg mana menggunakan tema tertentu untuk band mereka, seperti tema Eropa abad pertengahan yg dianut band Versailles.
J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?
Versailles
Dari segi penulisan lirik lagu para musisi Jepang juga dapat dibilang kreatif. Rata-rata para musisi negeri Sakura ini jarang menuliskan lirik reffrain yg berulang-ulang, karena biasanya ada bagian yg dari segi musikalitas seharusnya menjadi reff, namun mereka mengganti liriknya (biar pendengar tidak bosan dgn liriknya, mungkin). Biasanya lirik pd reff yg diulang satu sampai dua kali.
Selain itu para musisi Jepang ini menggunakan kemajuan teknologi yg dimiliki negara mereka dgn semaksimal mungkin dalam membuat MV (Music Video). Tidak jarang ditemukan MV musisi Jepang yg menggunakan special effect untuk membuat MV yg lebih menarik. Hal ini sedikit-banyak juga membuat para penikmat musik menjadi semakin tertarik untuk melihat dan mendengarkan lagu-lagu mereka.
Passion, salah satu lagu Utada Hikaru yg menggunakan special effect.

Para musisi Jepang juga tidak melulu melakukan promosi lagu dgn menerbitkan album dan melaksanakan tur. Beberapa dari musisi Jepang malah mengincar / diundang untuk mengisi soundtrack dari anime-anime, J-Dorama maupun video games di Jepang. Dari situ simbiosis mutualisme antara penerbit anime dgn musisi dapat terjadi, sebuah anime akan dapat terangkat pamornya bila musisi ternama yg mengisi soundtrack-nya, begitu juga sebaliknya. Karena soundtrack di beberapa acara di Jepang (khususnya anime) selalu mengganti soundtrack setelah beberapa episode, maka secara tidak langsung terciptalah persaingan dari para musisi tersebut untuk menghasilkan karya berkualitas yg berdampak positif bagi dunia musik Jepang.


K-Music
Tidak terbantahkan lagi kalau demam Korean wave telah melanda seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Lagu-lagu K-Pop yg ramai dilantunkan oleh boyband (BB) / girlband (GB) kenamaan Korea ini telah menjadi salah satu kiblat musik Asia, bahkan mungkin dunia. Sama seperti J-Music, lagu-lagu yg dikeluarkan para musisi negeri Ginseng ini kebanyakan menggunakan bahasa Korea. Namun dari fashion sangat berbeda dgn Jepang yg 'fantastis', fashion yg diterapakan para musisi Korea cenderung 'simpel namun berkelas'.
Sesuai yg disebutkan diatas, fashion para pelaku K-Pop ini cenderung simpel namun berkelas. Pengenalan jas dan kemeja yg lazim digunakan dalam dunia high-class ke atas panggung musik disertai dgn cara pengemasan yg menarik. Lihat saja cara berpakaian beberapa boyband kenamaan Korea, rata-rata menggunakan setelan jas yg notabene umum dipakai kalangan borjuis.
Terlepas dari beberapa isu bahwa kebanyakan musisi Korea (khususnya BB/GB) menjalani operasi plastik agar mendapatkan wajah yg tampan/cantik. Namun tidak dapat dipungkiri kalau para musisi Korea didominasi oleh orang-orang dgn wajah rupawan dgn dibalut dgn setelah berkelas, membuat para musisi Korea tidak hanya enak didengarkan lagunya namun juga enak dipandang.
J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?
Super Junior
Dari segi penulisan lirik, musisi Korea cenderung menggunakan lagu yg easy listening. Meskipun kebanyakan dari mereka (khususnya BB/GB) memasukkan unsur rap, namun (kemungkinan) karena bahasa Korea merupakan jenis bahasa yg memudahkan seseorang mengucapakan beberapa secara cepat, jenis rap yg dihasilkan jadi berbeda namun unik bila dibandingkan dgn lagu-lagu rap dari negara Barat.
Selain itu para musisi Korea ini terkesan lebih 'interaktif' dgn para penggemarnya. Banyaknya akun twitter yg dimiliki para musisi Korea yg bersifat go-public sehingga memungkinkan para fans untuk berinteraksi dgn idola mereka. Selain itu para musisi Korea juga memiliki akun YouTube resmi (sepertinya dibuatkan oleh manajemen mereka) yg memungkinkan para fans untuk melihat maupun mengunduh MV terbaru dari musisi idola mereka dgn kualitas gambar dan suara yg tidak mengecewakan.
I-Music

Musik di Indonesia dapat dikatakan beragam, hal ini dikarenakan banyak musisi Indonesia yg terinspirasi dari musisi-musisi luar. Namun secara garis besar ada dua jenis aliran musik yg sulit tergantikan di hati penikmat musik Indonesia, musik Pop dan dangdut. Dalam hal ini, biasanya para musisi Indonesia akan berdandan secara casual, kemungkinan karena memang nyaman digunakan dan lebih dekat dgn para penikmat.
Musisi di Indonesia kebanyakan menggunakan dandanan yg tidak terlalu 'wah', t-shirt dan celana jeans menjadi pilihan utama bagi sebagian musisi (terutama musisi pria). Dan pakaian berjenis dress menjadi alternatif lain bagi musisi wanita dikala akan tampil di panggung/acara/event besar, seperti konser / acara-acara lainnya. Sekilas hal ini menunjukkan bahwa fashion kurang mendapat perhatian penting bagi sebagian besar musisi tanah air.
J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?
Ada Band
Dari segi lirik dan musikalitas, terkesan sebagian besar ingin membuat lagu yg easy listening namun minim lirik sehingga mudah untuk dihafalkan pendengar. Metode ini memang merupakan salah satu cara agar lagu yg dikeluarkan gampang diterima di masyarakat namun juga berdampak kurangnya makna dari lagu tersebut karena minimnya kata dan banyaknya pengulangan dalam lagu, meskipun tidak semua lagu seperti itu. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kekuatan utama dan nilai jual suatu lagu karya anak bangsa ada pd bagian reffrain.
Selain dari segi berbusana, casual juga dibawa ketika musisi tanah air ini membuat MV. Biasanya sangat jarang musisi yg keluar dari 'pakem' show-off, dalam artian penampilan mereka ketika sedang menyanyikan lagu (baik secara band maupun solo) yg hampir mendominasi seluruh durasi MV (tidak berimbang dgn cerita dalam MV, kecuali memang tidak ada jalan cerita dari MV tersebut).
Untuk musik dangdut sendiri trend fashion yg biasa diperhatikan ialah baju-baju yg biasa digunakan ketika ada acara-acara tertentu, seperti baju dgn tambahan pernak-pernik "so-called bling-bling" yg seakan memamerkan keindahan tubuh sang penyanyi (untuk wanita). Meski pun trend tersebut baru-baru ini diubah dgn pakaian yg lebih casual. Selain itu beberapa pedangdut tanah air juga gemar mewarnai rambut mereka dgn beragam warna, tetapi kebanyakan (sepertinya) dilakukan tanpa konsultasi dgn pengamatan mode / orang yg lebih berpengalaman dalam dunia coloring rambut.
J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?
Ayu Ting Ting

Biasanya dalam rangka promo lagu / album terbaru musisi Indonesia menggunakan jalan baru tur dan mengandalkan penjualan melalui RBT (Ring Back Tone) / NSP (Nada Sambung Pribadi). Hal ini tak lepas dari masalah ramainya pembajakan di era modern sekarang, sehingga promosi melalui RBT jauh lebih menguntungkan dan lebih murah untuk digunakan konsumen dibanding harus membeli CD aslinya. Selain itu biasanya lagu baru yg langsung nge-hits akan langsung dijadikan soundtrack dari sinetron-sinetron baru di beberapa stasiun televisi.


J-Music VS K-Music VS I-Music
Dari segi musik dan lirik yg digunakan, ketiga negara tersebut menggunakan bahasa asli masing-masing. Namun kenapa musik Jepang dan Korea lebih mendunia dibanding musik Indonesia ? Orientasi go international yg dicanangkan musisi-musisi tersebut dapat menjadi patokannya. Kalau Jepang dan Kore terlihat pede menggunakan bahasa asli mereka sebagai cara menaklukkan dunia, maka musisi Indonesia (kebanyakan) membuat lagu-lagu berbahasa asing (utamanya Inggris) agar dapat lebih diterima pasar internasional. Padahal tidak sedikit lagu Indonesia yg benar-benar mapan secara lirik dan musikalitas yg sebenarnya mampu menguasai pasar asing.

Selain itu money-oriented yg diterapkan beberapa manajemen di Indonesia membuat beberapa musisi harus kehilangan 'jati diri' mereka dalam bermusik. Untuk musisi-musisi yg baru di industri musik misalnya, jika diawal kemunculannya mereka menjadi seorang musisi yg asli, seiring dgn perjalanan waktu cara bermusik mereka pun perlahan-lahan berubah mengikuti selera pasar. Tidak jarang kita lihat band yg dulunya membawakan musik metal dan cadas setelah beberapa tahun menjadi band mainstream dgn lagu slow dan bertemakan cinta.

Berbeda dgn musisi asal Jepang dan Korea. Kebanyakan musisi dari dua negara tersebut masih mempertahankan sisi originalitas mereka dan malah tidak jarang mereka membuat 'aliran baru' yg sebenarnya masih merupakan bagian dari suatu aliran yg umum. Seperti band Jepang Maximum The Hormone yg menyatakan mereka membawa aliran Nu Metal, dimana bodybang (bukan headbang) menjadi keunikan dari band tersebut. Karena mereka mungkin percaya bahwa originalitas dgn sendirinya akan membawa pd kesuksesan dan keuntungan materi, sekaligus sang musisi memiliki waktu edar yg lumayan lama di industri musik karena minim saingan dari aliran yg benar-benar sama.

J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?
Maximum The Hormone

Sisi originalitas juga merujuk kepada fashion. Meskipun musisi-musisi Jepang dan Korea dikenal gemar gonta-ganti style mereka, tetapi pasti ada satu sisi dari karakter mereka yg mereka pertahankan sebagai nilai jual. Hal ini juga membuat para fans tidak jenuh dan malah penasaran dgn fashion dari idola mereka. Bandingkan dgn fashion Indonesia yg terkesan lebih 'membumi'.

Selain itu pemberitahuan tentang lagu-lagu maupun MV terbaru dari para musisi tersebut tidaklah seheboh dua negara Asia Timur tersebut. Kalau musisi Korea yg memiliki akun resmi di situs YouTube, para musisi Indonesia lebih sering mempopulerkan lagu / MV terbaru mereka melalui acara-acara musik di televisi nasional. Memang broadcast-nya mudah dan pasti ke seluruh Nusantara, namun kurang eksklusifnya waktu yg dimiliki karena harus berbagi dgn musisi lainnya membuat beberapa musisi pendatang baru maupun yg berasal dari aliran non-mainstream akan kalah bersaing dgn musisi yg telah terkenal lebih dulu.

Selain itu minimnya liputan yg dilakukan pihak pertelevisian lokal terhadap musisi yg sedang manggung maupun membawa nama Indonesia di luar negeri seakan membuat mind-set bahwa musisi lokal sulit bersaing di pasar internasional. Padahal sebenarnya banyak musisi lokal yg sukses berkarya di luar, hanya saja minim pemberitaan. Siapa saja yg mengenal Anggun sebelum sang penyanyi memutuskan membuat beberapa lagu di Indonesia ? Selain itu ada juga band asal Bandung yg bernama Burgerkill yg sukses manggung beberapa kali Amerika Serikat.

J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?
Anggun C Sasmi

Musisi Indonesia sebenarnya memiliki kualitas dan kemampuan yg mumpuni untuk menaklukkan pasar Asia, bahkan dunia. Tergantung dari bagaimana manajemen dan semua perangkat yg berperan di balik layar sang musisi tersebut sendiri, bisakah mereka membantu untuk memfasilitasi sang musisi agar dapat membuat karya yg mendunia ? Karena sebenarnya untuk menguasai pasar dunia tidak perlu menggunakan lagu berbahasa asing, cukup dgn lagu berbahasa Indonesia namun dikemas sedemikian rupa agar menarik.


VIVA DUNIA MUSIK INDONESIA !!


Sumber Gambar :
  • Google

0 Response to "J-Pop sudah, K-Pop Sudah, I-Pop Kapan ?"

Post a Comment

Contact

Name

Email *

Message *