![]() |
| Memperingati hari kartini 21 April |
Jakarta ( BERITA TERKINI ) - Masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan membuat persalinan terlihat seperti momok yg menakutkan. Mendiang pahlawan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini, bahkan meninggal jg setelah melahirkan putra pertamanya.
Selama ni kita mungkin hanya mengenal Kartini sebagai pejuang yg membela emansipasi wanita pd masanya. Tidak banyak yg mengetahui Kartini muda jg berjuang menyelamatkan nyawanya dan nyawa buah hatinya, ketika melahirkan.
"Ibu Kartini meninggal dunia dlm perjuangannya melahirkan anak, seorang ibu yg harus meninggal dlm proses persalinan," kata dr Riskiyana Sukandhi Putra, Kasubdit Ibu Bersalin dan Nifas Kemenkes di Jakarta , baru-baru ini.
Hanya empat hari berselang setelah melahirkan Soesalit Djojoadhiningrat, 13 September 1904, RA Kartini menghembuskan nafas terakhir, 17 September 1904 di usia yg terbilang muda 25 tahun.
Kemenkes mencatat hingga kini angka kematian ibu saat melahirkan masih tinggi, 359 kasus setapi100 ribu kasus ibu melahirkan.
Masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan akibat indikator yg mempengaruhinya masih sangat kecil pencapaiannya dlm lima tahun belakangan ini. Yaitu angka kepesertaan ber-KB hanya meningkat 0,5% dari 57,4% menjadi 57,9%, angka unmetneed / orang yg ingin ber-KB tapi tak terlayani hanya turun 0,6% dari 9,1% menjadi 8,5%, angka kelahiran remaja hanya menurun 51 menjadi 48 dari tiap 1000 wanita.
"Kita jg tahu bahwa kelahiran terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat dan terlalu sering jg meningkatkan risiko kematian ibu dan anak saat melahirkan," ujar Riskiyana.
Padahal kata Riskiyana, kematian ibu saat melahirkan adalah sesuatu yg seharusnya bisa dicegah / preventable death.
Terkait penyebab kematian RA Kartini, Riskiyana mengatakan, ia meninggal akibat preeklamsia / salah satu kondisi medis dgn gejala hipertensi saat kehamilan.
Selama ni kita mungkin hanya mengenal Kartini sebagai pejuang yg membela emansipasi wanita pd masanya. Tidak banyak yg mengetahui Kartini muda jg berjuang menyelamatkan nyawanya dan nyawa buah hatinya, ketika melahirkan.
"Ibu Kartini meninggal dunia dlm perjuangannya melahirkan anak, seorang ibu yg harus meninggal dlm proses persalinan," kata dr Riskiyana Sukandhi Putra, Kasubdit Ibu Bersalin dan Nifas Kemenkes di Jakarta , baru-baru ini.
Hanya empat hari berselang setelah melahirkan Soesalit Djojoadhiningrat, 13 September 1904, RA Kartini menghembuskan nafas terakhir, 17 September 1904 di usia yg terbilang muda 25 tahun.
Kemenkes mencatat hingga kini angka kematian ibu saat melahirkan masih tinggi, 359 kasus setapi100 ribu kasus ibu melahirkan.
Masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan akibat indikator yg mempengaruhinya masih sangat kecil pencapaiannya dlm lima tahun belakangan ini. Yaitu angka kepesertaan ber-KB hanya meningkat 0,5% dari 57,4% menjadi 57,9%, angka unmetneed / orang yg ingin ber-KB tapi tak terlayani hanya turun 0,6% dari 9,1% menjadi 8,5%, angka kelahiran remaja hanya menurun 51 menjadi 48 dari tiap 1000 wanita.
"Kita jg tahu bahwa kelahiran terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat dan terlalu sering jg meningkatkan risiko kematian ibu dan anak saat melahirkan," ujar Riskiyana.
Padahal kata Riskiyana, kematian ibu saat melahirkan adalah sesuatu yg seharusnya bisa dicegah / preventable death.
Terkait penyebab kematian RA Kartini, Riskiyana mengatakan, ia meninggal akibat preeklamsia / salah satu kondisi medis dgn gejala hipertensi saat kehamilan.
SUMBER DARI : INILAH.COM

0 Response to "MEMPERINGATI HARI KARTINI 21 APRIL MENGENAL PREEKLAMSIA SEBAB MENINGGALNYA RA KARTINI"
Post a Comment